Gaharu Adalah Sarana Yang Disukai Nabi Dan Umat Lainnya – Sejarah Gaharu

Sejarah Gaharu – Selama Berabad-abad terdahulu, Gaharu menjadi komoditas paling mahal dan paling bergengsi di dunia perdagangan khususnya di Jalur Sutra (Silk Road). Di Sutra merupakan jalur perdagangan yang membentang dari Cina sampai ujung Turki. Di sana, Gaharu bahkan bisa jadi lebih mahal dari nilai emas dan intan permata. Yang membuatnya mahal, dikarenakan para pedagang memburu Gaharu karena permintaan yang tinggi dari para raja, orang kaya, dan para pemuka agama.

sejarah gaharu

Saat itu, Gaharu sendiri memiliki berbagai macam fungsi yang berbeda di berbagai tempat. Misalnya di Mesir, bangsa Mesir Kuno memanfaatkan Gaharu sebagai salah satu bahan dalam pembuatan mumi. Sementara di Yerusalem, orang Israel membakar Gaharu di depan Bait Allah untuk wewangian penghantar doa-doa. Lantas di Arabia dan Syam, digunakan untuk mengharumkan ruang-ruang istana dan rumah-rumah. Dan di Asia Selatan dan Asia Timur, Gaharu dibakar dalam kuil-kuil sebagai sarana peribadatan. Sehingga dalam sejarah Gaharu ini menunjukkan gaharu bukan merupakan sarana mistik agama atau untuk upacara-upacara tertentu.

Sekarang ini, Gaharu muncul dengan berbagai variasi, ada yang berbentuk seperti cengkeh yang lengket buatan Uni Emirat Arab, Arab Saudi dan di wilayah Teluk lainnya. gaharu tersebut disebut Al-Bukhuor, sedangkan tempatnya disebut Al-Mubakhar. Selain itu, ada pula yang dijadikan serbuk yang dibakar menggunakan bara. Ada juga yang berbentuk stik seperti hio/dupa yang biasanya dibakar di klenteng-klenteng. Gaharu stik ini yang sekarang banyak dan mudah didapatkan, sebab bentuk ini dianggap praktis dalam penggunaannya, hanya tinggal dibakar dan ditancapkan.

gelanggaharu.com

Sejarah Gaharu Pada Zaman Nabi

Sejarah Gaharu juga tercatat di zaman Nabi dan Salafush Shaleh juga menjadi bagian dari beberapa ritual umat Islam. Nabi Muhammad SAW dan para Sahabat sendiri sangat menggemari wangi-wangian, salah satunya wangi Gaharu, hal ini disebutkan di berbagai hadits.diantaranya hadits shohih riwayat Imam Muslim dan Imam Al-Bukhari berikut ini :

عَنْ نَافِعٍ، قَالَ: كَانَ ابْنُ عُمَرَ «إِذَا اسْتَجْمَرَ اسْتَجْمَرَ بِالْأَلُوَّةِ، غَيْرَ مُطَرَّاةٍ وَبِكَافُورٍ، يَطْرَحُهُ مَعَ الْأَلُوَّةِ» ثُمَّ قَالَ: «هَكَذَا كَانَ يَسْتَجْمِرُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dari Nafi’, ia berkata, “Apabila Ibnu Umar mengukup mayat (membakar Gaharu), maka beliau mengukupnya dengan kayu gaharu yang tidak dihaluskan, dan dengan kapur barus yang dicampurkan dengan kapur barus. Kemudian beliau berkata, “Beginilah cara Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam ketika mengukup jenazah (membakar Gaharu untuk mayat)”. (HR. Muslim)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” أَوَّلُ زُمْرَةٍ تَدْخُلُ الجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ، … الى قوله … وَوَقُودُ مَجَامِرِهِمْ الأَلُوَّةُ – قَالَ أَبُو اليَمَانِ: يَعْنِي العُودَ -، وَرَشْحُهُمُ المِسْكُ

Dari Abi Hurairah radliyalahu ‘anh, bahwa Rosulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda : “Golongan penghuni surga yang pertama kali masuk surga adalah berbentuk rupa bulan pada malam bulan purnama, … (sampai ucapan beliau) …, nyala perdupaan mereka adalah gaharu, Imam Abul Yaman berkata, maksudnya adalah kayu gaharu” (HR. Imam Bukhari)

Ada juga hadits shahih riwayat Imam Ahmad dalam musnadnya,

عَنْ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِذَا أَجْمَرْتُمُ الْمَيِّتَ، فَأَجْمِرُوهُ ثَلَاثًا

Dari Abu Sufyan, dari Jabir, ia berkata, Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : Apabila kalian mengukup mayyit diantara kalian, maka lakukanlah sebanyak 3 kali” (HR. Ahmad)

Diriwayatkan pula Shahih Ibnu Hibban dalam sebuah shahih (atas syarat Imam Muslim):

عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِذَا جَمَّرْتُمُ الْمَيِّتَ فأوتروا

Dari Jabir, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam bersabda : “Apabila kalian mengukup mayyit, maka ukuplah dengan bilangan ganti (ganjilkanlah)” (HR. Ibnu Hibban, diriwayatkan juga oleh Ibnu Abi Syaibah)

 

gelanggaharu.com

Disebutkan juga bahwa sahabat Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam berwasiat ketika telah meninggalkan dunia, supaya kain kafannya di ukup
.

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ أَنَّهَا قَالَتْ لِأَهْلِهَا: «أَجْمِرُوا ثِيَابِي إِذَا مِتُّ، ثُمَّ حَنِّطُونِي، وَلَا تَذُرُّوا عَلَى كَفَنِي حِنَاطًا وَلَا تَتْبَعُونِي بِنَارٍ

Dari Asma` binti Abu Bakar bahwa dia berkata kepada keluarganya; “Berilah uap kayu gaharu (ukuplah) pakaianku jika aku meninggal. Taburkanlah hanuth (pewangi mayat) pada tubuhku. Janganlah kalian tebarkan hanuth pada kafanku, dan janganlah mengiringiku dengan membawa api.”Riwayat shahih ini terdapat dalam Al-Muwaththa’ Imam Malik, As-Sunan Al-Kubro Imam Al-Baihaqi.

Hingga, ada juga riwayat tentang meng-ukup masjid:

جَنِّبُوا مَسَاجِدَكُمْ صِبْيَانَكُمْ، وَخُصُومَاتِكُمْ وَحُدُودَكُمْ وَشِرَاءَكُمْ وَبَيْعَكُمْ وَجَمِّرُوهَا يَوْمَ جَمْعِكُمْ، وَاجْعَلُوا عَلَى أَبْوَابِهَا مَطَاهِرَكُمْ

Jauhkanlah masjid-masjid kalian dari anak-anak kecil kalian, dari pertikaian diantara kalian, pendarahan kalian dan jual beli kamu. Ukuplah masjid-masjid itu pada hari perhimpunan kamu dan jadikanlah pada pintu-pintunya itu alat-alat bersuci kalian. (HR. Imam Al-Thabrani didalam Al-Mu’jram al-Kabir. Ibnu Majah, Abdurrazaq dan Al-Baihaqi juga meriwayatkan dengan redaksi yang hampar sama)

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah juga menyebutkan dalam kitabnya Siyar A’lam An-Nubala’ (5 /22 ) tentang biografi Nu’aim Bin Abdillah Al-Mujammar, sebagai berikut :

نعيم بن عبد الله المجمر المدني الفقيه ، مولى آل عمر بن الخطاب ، كان يبخر مسجد النبي صلى الله عليه وسلم .

“Nu’aim Bin Abdillah Al-Mujammar, ahli Madinah, seorang faqih, Maula (bekas budak) keluarga Umar Bin Khattab. Ia membakar Gaharu untuk membuat harum Masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam”

Dengan merujuk pada sebagian riwayat-riwayat yang disebutkan diatas, bisa diketahui kalau penggunaan Gaharu merupakan hal biasa pada masa Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam, masa para sahabat dan seterusnya. gaharu tidak hanya digunakan sebagai wangi-wangian maupun hal-hal yang bersifat keagamaan.Hingga Ibnul Qayyim Al-Jauziyah pun pernah berkomentar mengenai Gaharu ini didalam kitabnya Zadul Ma’ad (4/315) yakni mengenai Gaharu India :

العود الهندي نوعان، أحدهما: يستعمل في الأدوية وهو الكست، ويقال له: القسط وسيأتي في حرف القاف. الثاني: يستعمل في الطيب، ويقال له: الألوة. وقد روى مسلم في ” صحيحه “: عن ابن عمر رضي الله عنهما، أنه ( «كان يستجمر بالألوة غير مطراة، وبكافور يطرح معها، ويقول: هكذا كان يستجمر رسول الله صلى الله عليه وسلم،» ) وثبت عنه في صفة نعيم أهل الجنة ( «مجامرهم الألوة» )

”Kayu gaharu india itu ada dua macam. Pertama adalah kayu gaharu yang digunakan untuk pengobatan, yang dinamakan kayu al-Kust. Ada juga yang menyebutnya dengan al-Qusth, menggunakan hurug “Qaf”. Kedua adalah yang digunakan sebagai pengharum, yang disebut Uluwwah. Dan sungguh Imam Muslim telah meriwayatkan didalam kitab shahihnya dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anh, bahwa beliau (Ibnu Umar) mengukup mayyit dengan kayu gaharu yang tidak dihaluskan, dan dengan kapur barus yang dicampur dengan kayu gaharu. Kemudian beliau berkata, “Beginilah cara Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam mengukup mayyit. Dan terbukti sebuah hadits lain riwayat Imam Muslim perihal mensifati keni’matan penghuni surga, yaitu “pengukupan/Gaharu ahli surga itu menggunakan kayu gaharu”.

Demikian artikel yang mengupas sekilas tentang sejarah gaharu, semoga bermanfaat bagi Anda dan memberikan keberkahan pada pengetahuan Anda mengenai gaharu.

gelang gaharu bertuah